KEMENKO KEMARITIMAN GANDENG PEMKAB ASAHAN DAN UNA DALAM MENGEMBANGKAN TANAMAN MAGROVE DI DESA SILAU BARU

KISARAN (26/12/2020)- Staf Ahli Bidang Manajemen Konektivitas Kementerian Koordinator Maritim dan Investasi, Sahat M. Panggabean, menggandeng Pemkab Asahan dan Universitas Asahan (UNA) dalam mengembangkan tanaman mangrove sebagai ekowisata.

Pengembangan mangrove di Desa Silau Baru, Kecamatan Silau Laut, Kabupaten Asahan, diawali dengan peresmian nursery mangrove yang sudah dibibitkan hingga 500 ribu bibit dan eencananya akan dilakukan penanaman pada bulan April mendatang.

 “Ada 500 ribu bibit yang telah yang saat ini dalam pengembangan dan penanaman perdana diperkirakan pada bulan April mendatang,” kata Kepala Desa Silau Baru, Ahmad Sofyan, yang menyambut kehadiran Sahat Panggabean bersama Bupati Asahan, Surya, Sabtu (19/12).

Dalam kesempatan itu Sahat mengatakan pembangunan nursery mangrove merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membangun green economy yang berkelanjutan.

Menurutnya bibit-bibit pohon yang dikembangkan selain memiliki fungsi ekologi juga memiliki fungsi ekonomi.

“Ke depan Indonesia ingin menuju ke sebuah green economy yang sustainable, yang berkelanjutan dan kita harapkan dampak ekonomi kepada masyarakat bawah itu akan semakin kelihatan,” ungkap putra Tanjungbalai itu.

Lebih lanjut Sahat menjelaskan pembibitan mangrove ini dimaksudkan guna mendukung upaya pemulihan ekosistem dan ekonomi masyarakat pesisir yaitu dengan melakukan rehabilitasi kawasan mangrove dalam bentuk penanaman, pembibitan, dan pelatihan pengolahan produk turunan mangrove.

“Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah melakukan kegiatan pembangunan kebun bibit yang berlokasi di Desa Silau Baru, Kecamatan Silau Laut, Dusun 10 yaitu seluas 3.093 meter2 (area pembibitan) dengan jumlah bibit sebanyak 500.000 yang pada hari ini telah diresmikan,” ungkapnya.

Sahat menyebut pembangunan lokasi pembibitan mangrove akan menjadi sumber stok bibit mangrove siap tanam sehingga kegiatan penanaman mangrove untuk pemulihan ekosistem dapat terus dilakukan tanpa kendala ketersediaan bibit.

Selain itu, masyarakat pun dapat mengambil keuntungan dengan menjual bibit siap tanam tersebut kepada pihak Bumdes (Badan Usaha Milik Desa) atau pihak lain yang membutuhkan.

“Stimulus ekonomi melalui program rehabilitasi kawasan mangrove ini berdampak positif pada pelestarian ekosistem pesisir dan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.

Untuk mendukung program ini, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Kementerian Desa dalam membangun infrastruktur di desa tersebut, ditambah lagi bantuan dari Pemkab Asahan.

Menyikapi itu, Bupati Asahan, Surya, menjelaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Asahan sangat mendukung program pembangunan lembibitan (nursery) mangrove yang baru saja diresmikan.

“Kami sangat mendukung, pengembangan mangrove, bahkan Pemkab Asahan siap membangun infrastruktur ke lokasi mangrove,” ungkap Surya yang menyadari tanpa infrastruktur program apapun sulit akan tercapai.

Begitu pula dengan Rektor UNA, Prof. Dr. Tri Harsono M.Si, juga menegaskan pihaknya siap membantu pengembangan sumber daya manusia di pedesaan ini agar bisa memanfaatkan berbagai peluang yang terjadi dengan pengembangan nursery atau pembibitan mangrove.

“Kita siap melakukan penelitian sekaligus pengembangan sumber daya manusia di desa ini,” ujar Tri Harsono. (Humas UNA)