FKIP UNA GELAR PENGAJIAN RUTIN

KISARAN – Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Asahan (FKIP UNA) menggelar pengajian rutin bersama Pimpinan Fakultas, Dosen dan pegawai di ruangan dosen FKIP UNA, Kamis (6/8/2020).

Acara tersebut dihadiri Dekan FKIP UNA Dr. Elly Ezir, M.S, Wakil Dekan I Sri Rahmah Dewi Saragih, S.Pd., M.Pd, Wakil Dekan II Lis Supiatman, S.Pd., M.Hum, Wakil Dekan III Drs. Dailami, M.Pd, Seluruh Ketua dan Sekretaris Prodi FKIP UNA serta KTU dan pegawai FKIP UNA.

“pengajian ini sebenarnya ditujukan untuk mempererat tali kekeluargaan, kebersamaan, kekompakan, menyamakan persepsi, dan meningkatkan etos kerja,” papar Dekan FKIP UNA.

Untuk menumbuhkan etos kerja dibutuhkan penghayatan yang dalam tentang makna KERJA itu sendiri. Jika kerja dimaknai hanya sebagai rutinitas saja, maka akan lahir etos kerja yang lemah, atau bahkan etos kerja itu tak pernah muncul, sebaliknya, jika bekerja dipahami sebagai ibadah dalam menggapai ridha dan surga Allah, dan sebuah jihad profesi, maka insya Allah akan lahir etos kerja yang tinggi.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Dekan FKIP UNA Dr. Elly Ezir, M.S dalam Pengajian Rutin Pimpinan, Dosen dan Pegawai di FKIP UNA.

Dr. Elly Ezir, M.S juga menjelaskan bahwa bekerja dalam Islam merupakan bagian dari ibadah. Karena itu, motivasi kerja dalam Islam tujuan (goal) nya bukan mengejar kemewahan, meninggikan strata atau bahkan menumpuk-numpuk kekayaan dengan menghalalkan segala cara.

“Masalahnya bukan pada kaya atau tidak. Tidak ada hukum yang melarang seorang muslim untuk tidak kaya, termasuk Allah dan Rasul-Nya. Namun yang perlu digaris bawahi di sini adalah motivasi (niat) bekerja itu sendiri untuk apa. Jika dipahami bekerja adalah ibadah, maka insya Allah apa pun hasil yang diperoleh dari bekerja itu akan mendapat keberkahan dari Allah Ta’ala” jelasnya

.Ia juga menambahkan, bahwa selain itu, adil dalam bekerja artinya seseorang itu harus bekerja sesuai dengan job desknya masing-masing: siapa melakukan apa, bertanggung jawab kepada siapa, dan apa tugas yang harus dilakukannya. Yang tak kalah penting, untuk membangun etos kerja seorang Muslim, tidak ada one man show, sebab tak ada manusia “Superman” di dunia ini.

“Karena itu, seorang Muslim dituntut untuk bekerja secara profesional. Profesional dalam hadis di atas artinya jika seorang Muslim motivasi bekerjanya untuk ibadah, maka dia harus melakukannya dengan sebaik mungkin. Seorang Muslim dituntut untuk selalu meningkatkan skill (ketrampilan) dan knowledge (pengetahuan)nya untuk menghasilkan kerja yang terbaik” ungkapnya.

Ia juga menyampaikan pesan bahwa setiap langkah yang besar, selalu dimulai dengan langkah yang pertama. Artinya tidak ada pencapaian kesuksesan diraih dengan cara instan tetapi banyak tahapan yang dilewati untuk mencapainya.

Ikatan emosional, masih papar Dekan FKIP UNA, menjadi spirit utama untuk menggerakkan dan memajukan semua program yang ada di fakultas. Dekan kelahiran Kisaran tersebut juga menuturkan bahwa setiap etos kerja pada puncaknya pasti akan menemui titik jenuh. Dari hal itu perlu ada satu event untuk mempererat ikatan emosional setiap karyawan dan dosen. Salah satunya dengan outbond yang melibatkan keluarga terdekat dosen dan karyawan.

“Pada kegiatan tersebut juga dimanfaatkan untuk sharing dan saling tukar informasi guna kemajuan lembaga,” tambahnya.

Dalam peningkatan etos kerja, masih lanjutnya, juga tidak lepas dari dukungan dari keluarga. Kami mencoba memberikan pengertian kepada seluruh keluarga dekat dosen dan karyawan bahwa anggota keluarga yang bekerja di fakultas murni bekerja. Yaitu bekerja yang dilandasi dengan niat baik dan semata-mata untuk beramal shalih.

“Adanya kegiatan ini, rutinitas kerja di fakultas pasti bisa berjalan lebih baik dan lebih produktif. Karena Kerjasama dari setiap dosen dan karyawan sudah lebih solid dan kemajuan lembaga yang diharap pun pasti tercapai,” pungkasnya. (Humas UNA)