Peringati Harkitnas ke-118, Universitas Asahan Deklarasi Kebangkitan: Sasar 1.300 Mahasiswa Baru dan Target Berstatus Negeri

KISARAN-Halaman Biro Rektor Universitas Asahan (UNA) berubah menjadi lautan semangat kebangsaan sekaligus panggung tekad transformasi, Rabu pagi (20/5/2026). Puluhan elemen keluarga besar kampus, mulai dari pimpinan yayasan, dosen, tenaga kependidikan, satuan pengamanan, hingga perwakilan Unit Kegiatan Kemahasiswaan (UKM), memadati lokasi untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118.

Dipimpin langsung oleh Rektor UNA, Assoc. Prof. Dr. Mangaraja Manurung, S.H., M.H, selaku Inspektur Upacara, suasana upacara terasa khidmat namun penuh gelora nasionalisme. Dalam amanat yang dibacakannya, Rektor menyampaikan pesan penting dari Menteri Komunikasi dan Digital RI, Meutya Viada Hafid, dengan tema besar “Jaga Tunas Bangsa Demi Kedaulatan Negara”.

Dalam sambutannya, Menteri menegaskan bahwa makna Kebangkitan Nasional di era modern telah bergeser. “Kebangkitan Nasional bukan sekadar seremoni. Ini soal keberanian melepaskan diri dari belenggu ketertinggalan. Tantangan kita kini bukan lagi tanah terjajah, tetapi kedaulatan informasi dan digital,” kutip pesan tersebut.

Momen peringatan tahun ini pun kian istimewa seiring telah disahkannya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 (PP TUNAS). Aturan yang melindungi anak di bawah usia 16 tahun dari akses media sosial berisiko tinggi ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam menjaga generasi muda di ruang digital.

Transformasi Kampus: Sasar 1.300 Mahasiswa dan Perkuat Akreditasi Unggul

Usai upacara, semangat kebangkitan diterjemahkan dalam sesi Coffee Morning bertajuk “Evaluasi, Refleksi, dan Inovasi Baru Merajut Kebersamaan”. Di forum ini, Rektor Mangaraja Manurung memaparkan peta jalan ambisius UNA menuju keunggulan, UNA hari ini telah membuka 12 prodi, 1 PPG dan 3 program magister (S2).

Salah satu target utama yang dicanangkan adalah pencapaian 1.300 mahasiswa baru pada tahun ajaran 2026–2027. Angka ini menjadi tantangan sekaligus motivasi besar bagi seluruh sivitas akademika. Langkah strategis disiapkan matang, mengingat dua program studi unggulan, yakni Ilmu Hukum dan Teknik Informatika, telah lebih dulu meraih akreditasi “Unggul”.

“Kita akan genjot Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) untuk minimal satu prodi berstatus Unggul lagi. Transformasi digital melalui penerapan Learning Management System (LMS) dan sistem pembelajaran hybrid adalah keharusan, bukan pilihan,” tegas Rektor di hadapan para dekan dan pimpinan lembaga.

Inovasi tidak hanya berhenti pada kurikulum, namun juga menyentuh pelayanan dan promosi. Demi memperluas jangkauan promosi kampus, dosen dan staf yang memasang identitas atau branding UNA pada kendaraan pribadi mereka pun akan diberikan insentif khusus. Sebuah gerakan promosi massal yang melibatkan seluruh elemen kampus, seluruh dosen dan tendik wajib promosi dan daftarkan mahasiswa baru Tahun Akademik 2026/2027.

Ubah Pola Pikir: Mahasiswa Adalah Mitra dan Pelanggan

Poin paling emosional dan menohok dalam acara tersebut datang dari arahan Ketua Pengurus Yayasan UNA, Drs. Mapilindo, M.Pd. Di hadapan seluruh jajaran, ia secara tegas meminta perubahan total pola pikir dalam melayani civitas akademika.

“Ubah cara pandang kita! Mahasiswa adalah pelanggan sekaligus mitra kita. Jangan pernah mempersulit urusan mereka, apalagi sampai memperjualbelikan nilai. Jangan pula ada anggapan bahwa karena sudah bergelar profesor, lalu menjadi sulit ditemui mahasiswa. Ingat, kita ini adalah pelayan,” ujar Drs. Mapilindo yang disambut tepuk tangan meriah.

Ia juga membeberkan komitmen besar yayasan dalam memajukan kualitas sumber daya manusia. Setiap tahun, yayasan menggelontorkan dana hingga Rp1,5 miliar khusus untuk mendongkrak kualifikasi pendidikan dosen menuju jenjang S3. Hasil kerja keras itu mulai terlihat: UNA kini mampu membuka program studi baru terregistrasi, seperti rencana pembukaan Fakultas Kedokteran dan Program Studi Bisnis Digital—yang izin perizinannya berhasil diselesaikan dalam rekor waktu kurang dari dua bulan.

Mimpi Besar: Universitas Asahan Menjadi Perguruan Tinggi Negeri

Sisi lain dari tekad kebangkitan UNA terungkap dari visi besar para pendiri dan pembina yayasan. Anggota DPRD Sumut sekaligus dosen UNA, H. Dr. Drs. Aripay Tambunan, M.M, bersama Pembina Yayasan, Prof. Dr. Darma Bakti, M.Si, kembali menggaungkan cita-cita luhur pendiri kampus: Universitas Asahan harus berstatus Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

“Kita memang sudah terlambat sekitar 40 tahun dibandingkan perguruan tinggi negeri lain di Sumatera Utara. Namun, tidak ada kata menyerah. Dalam minggu ini juga, kami akan segera duduk dan berdiskusi langsung dengan Bapak Gubernur Sumatera Utara,” ujar Aripay Tambunan dengan penuh semangat.

Sebagai alumni pertama UNA era 1980-an, ia berjanji menjadi jembatan komunikasi antara kampus, DPRD, dan Pemerintah Provinsi demi mewujudkan mimpi tersebut.

Sebagai langkah awal menuju visi besar itu, disepakati pembangunan gedung Rektorat baru berlantai dua dengan desain ikonik, yang pendanaannya akan didorong melalui aspirasi anggaran provinsi. Perubahan status dari pengelolaan yayasan menjadi negeri dinilai sangat penting untuk menjamin eksistensi kampus dan menjaga warisan pendidikan ini agar tidak dikuasai pihak lain di masa depan.

Apresiasi Bagi Pengabdi dan Penutup Penuh Harapan

Di penghujung acara, manajemen UNA memberikan penghargaan istimewa berupa piagam dan uang saku bagi dosen serta tenaga kependidikan yang telah berdedikasi tinggi dalam mendukung keberhasilan penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2025/2026.

Para penerima penghargaan dari unsur dosen adalah: Dr. Rosnaida, S.E., M.M; Hanina, S.Psi., M.Psi; serta Eva Margaretha Saragih, M.Pd. Sementara dari unsur tenaga kependidikan, apresiasi diberikan kepada: Muhammad Arifin, S.Kom; Dedy Wardhata Simanjuntak, S.E; Zenny Astuti Panjaitan, S.E; Erlina Nst, S.E; dan Mhd. Ade Sanjaya, S.Pt.

Penghargaan juga diserahkan untuk fakultas dengan galeri mading terbaik, yang diraih secara berturut-turut oleh Fakultas Hukum, Fakultas Ekonomi, dan Fakultas Pertanian.

Peringatan Harkitnas tahun ini menegaskan bahwa bagi UNA, kebangkitan bukan sekadar slogan, melainkan sebuah gerakan nyata. Di tengah tantangan digitalisasi, persaingan akreditasi, dan ketatnya persaingan antar perguruan tinggi, Universitas Asahan memilih untuk melangkah maju.

Semangat pagi itu ditutup dengan tekad kolektif yang diserukan bersama: “UNA to word excellent”. Sebuah harapan besar agar kampus kebanggaan warga Asahan ini terus bangkit, berprestasi, dan menjadi yang terbaik di kancah pendidikan nasional.

Bagikan ke media sosial Anda!