SUCI WAHIDMA SARI PERAIH IPK TERTINGGI PADA WISUDA SARJANA XXV UNIVERSITAS ASAHAN TAHUN 2019

Kisaran-Suci Wahidma Sari, mahasiswa program studi agrotenologi dengan raihan indeks prestasi komulatif (IPK) tertinggi 3,93 pada wisuda sarjana XXV Universitas Asahan (UNA) merupakan anak seorang ayah yang kesehariannya mencari rezeki sebagai penarik becak bermotor (parbetor), Selasa (10/12/2019).

Bisa menamatkan pendidikan di Universitas Asahan sebagai sarjana saja dirasanya sebagai bentuk kesyukuran nikmat yang begitu besar yang ia raih. Sebab dalam perjalanan empat tahun masa kuliahnya berulang kali ia tersendat dalam urusan pembayaran uang kuliah.

Tapi, itu tak menjadikannya alasan berhenti kuliah dan berprestasi. Bahkan, lebih dari itu ternyata dia bisa memberikan kado kepada kedua orang tuanya yang sudah bersusah payah berjuang demi mencukupi biaya kuliah dengan menjadi wisudawan terbaik nilai tertinggi.

“Alhamdulillah, ini kado saya untuk kedua orang tua. Terutama bagi ayah yang memang kesehariannya sebagai penarik betor (becak bermotor). Atas usaha dan keringat ayah sampai hari ini saya bisa kuliah dan sukses hari ini,” kata Suci.

Anak pertama dari tiga bersaudara yang tinggal di Dusun IV, Desa Aras, Kabupaten Batubara ini juga berulang kali menyampaikan rasa bangganya terhadap orang tuanya, meski kehidupan keluarga mereka serba berkecukupan.

“Ayah sama mamak selalu berusaha keras supaya kami anak anaknya bisa sekolah. Mamak kerja juga sebagai penjahit. Dua adik saya juga masih sekolah yang satu SMK dan satu lagi SD,” kata anak pasangan suami istri Kuswandi Prayetno dan Sri Bayu ini.

Lantas bagaimana kiat-kiat yang dilakukan suci sehingga bisa seberhasil sekarang.

“Yang penting belajarnya jangan mepet ujian. Sebisa mungkin meluangkan waktu lebih banyak untuk mata kuliah yang sulit dipahami,” jawabnya.

Meskipun di jurusan Agroteknologi jarang diberikan tugas kelompok, ia tetap menyarankan untuk bisa memiliki kelompok belajar.

“Banyak-banyaklah cari teman yang bisa diajak main sekaligus belajar. Terutama yang saling mau mengajar dan diajar,” ujarnya.

Namun demikian ia sempat menimpali bahwa IPK 3.93 tentunya bukanlah sebuah keharusan, ia menekankan sejatinya kuliah adalah persoalan tanggung jawab yang juga harus dinikmati.

“Carilah versi terbaik dirimu sendiri,” tandasnya.

Suci mengungkapkan kita tidak perlu meniru kesuksesan orang lain dan juga tidak perlu menjiplak seutuhnya tips orang lain. Yang mudah adalah menjadi diri sendiri dan menemukan resep sukses tercocok ala diri sendiri.

Menurut wanita berusia 21 tahun ini, kedua orangtuanya selalu berpesan agar anak anaknya bisa terus sekolah. Sebab, pendidikanlah yang bisa merubah nasib anak anaknya itu menjadi lebih baik dari mereka.

“Pendidikan salah satu yang bisa merubah hidup kita di dunia ini. Sekali lagi saya mengucapkan terimakasih untuk kedua orang tua tanpa mereka disini kita para wisudawan tidak bisa berdiri dan sukses,” ujarnya yang saat acara wisuda juga memberikan kata sambutan mewakili 390 wisudawan angkatan XXV.

Setelah lulus, Suci mengaku ingin melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2. Namun ia juga menyadari besarnya biaya kuliah program pasca sarjana.

“Keinginan saya memang S2, tapi untuk sementara saya kerja dulu, simpan tabungan nanti biar bisa lanjut kuliah,” ucapnya.

Selain Suci, beberapa wisudawan dengan raihan IPK tertinggi lainnya adalah Nita Kurniati dengan IPK 3,77 program studi budidaya perairan, Ilham Aidil Putra (3,70) program studi manajemen, Wilda Ayu Mentari (3,76) program studi ekonomi pembangunan, Mana Kebenaran Ndruru (3,75) dari Imu Hukum, Elin Wahyuni (3,70) dari pendidikan matematika, Laila Purnama Sari (3,75) dari pendidikan Bahasa Inggris dan Rehngenana br Tarigan (3,74) pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. (HUMAS UNA).