UNA GELAR DIKLAT PELATIHAN TENTANG PENGENDALIAN PENYAKIT PADA IKAN

KISARAN-Fakultas Pertanian Prodi Budidaya Perairan (BDP) Universitas Asahan (UNA) bekerjasama dengan Dinas Perikanan Kabupaten Asahan dan Badan Karantinan Ikan, Pengendalian Mutu dan Kedamanan Hasil Perikanan menggelar kegiatan pelatihan pengendalian penyakit pada ikan, yang diikuti sekitar 50 peserta yakni dari perwakilan penggiat budidaya ikan se-kota Kabupaten Asahan dan mahasiswa UNA prodi budidaya perairan.

Kegiatan pelatihan secara resmi dibuka Plt. Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Asahan Rahmat Hidayat Siregar, S.Sos, M.Si, diwakili Kabid Pemberdayaan Masyarakat Perikanan Rizal Situmorang, SP di aula BDP Universitas Asahan.

Kegiatan tersebut berlangsung selama 2 (dua) hari dari tanggal 5-6 Desember 2019.

Dalam sambutannya Rizal Situmorang, SP mengatakan, tujuan kegiatan pelatihan pengendalian hama dan penyakit ikan adalah agar para pelaku atau penggiat budidaya perikanan dapat menimba ilmu sekaligus berlatih beberapa hal penting dalam pengelolaan budidaya ikan yang didapat dari narasumber pada pelatihan ini.

“Semoga para peserta dapat menerapkan bekal yang diberikan ini untuk kepentingannya sendiri serta kelompok lainnya yang bergerak dalam budidaya ikan,” ujar Rizal Situmorang.

Pemateri pertama, Bambang Limbong, S.Si dari Badan Karantinan Ikan, Pengendalian Mutu dan Kedamanan Hasil Perikanan Tanjungbalai, memaparkan 5 parameter penting kualitas air pada budidaya air tawar;DO, pH, Ammonia, Nitrit dan Nitrat, dimana acara tersebut dimoderatori oleh , Andy Ganda Siagian, S.Pi.

Salah satu yang dianggap sering menjadi penghambat utama budidaya ikan terbesar adalah dropnya beberapa parameter kualitas air tawar seperti menurun kadar oksigen terlarut, pH bersifat asam, dan tingginya ammonia sehingga ikan mudah stress dan mengakibatkan turunnya sistem imunitas pada tubuh ikan. Keracunan yang bayak dikenal adalah yang disebabkan oleh ion NO2– dan NH3. Tetapi ini terjadi hanya pada kondisi lingkungan tertentu, misalnya sisa feces, penimbunan lumpur dan sisa pakan yang banyak dikolam ikan.

Pemateri selanjutnya, Aspirin Tamba, S.Pi, M.Si dari Dinas Perikanan Kabupaten Asahan, yang mengupas tentang hama dan penyakit pada ikan. Dalam paparannya Bambang Limbong mengungkapkan tentang potensi penggunaan bahan herbal untuk pengelolaan kesehatan ikan.

“Kita dapat menggunakan tanaman yang ada di sekitar kita untuk mengobati penyakit pada ikan yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus dan lainnya. Tanaman tersebut berupa bawang putih, daun jambu biji, meniran, kunyit dan lainnya. Disamping mudah diolah dan tidak mahal juga jauh dari zat kimia berbahaya,” terang Aspirin Tamba.

Terakhir, materi pada pelatihan ini di berikan oleh Juliwati Batubara, S.Pi, M.Si juga dosen BDP UNA.

Agar para pembudidaya ikan terhindar dari kerugian ekonomis, bahkan gagal panen, maka para akuakulturis dan calon akuakulturis perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang penanggulangan hama dan penyakit serta mampu mencegah dan mengatasi dropnya kualitas air yang terjadi pada ikan pemeliharaannya, maka mereka perlu dibekali pengetahuan mengenai Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) sesuai kebijakan KKP yang digencarkan ibu Menteri Perikanan dan Kelautan.

“Pada prinsipnya penyakit yang menyerang ikan tidak datang begitu saja, melainkan  melalui proses hubungan antara tiga faktor, yaitu kondisi lingkungan (kondisi di dalam air), kondisi inang (ikan), dan adanya jasad pathogen (jasad penyakit). Dengan demikian timbulnya serangan penyakit itu merupakan hasil dari interaksi yang tidak serasi antara lingkungan, ikan, dan jasad/ organisme penyakit. Interaksi yang tidak serasi ini menyebabkan stress pada ikan, sehingga mekanisme pertahanan diri yang dimilikinya menjdi lemah dan akhirnya mudah diserang penyakit. Sebenarnya dapat dihindari apabila petani mempunyai pengetahuan yang memadai mengenai cara menjaga keserasian antara ketiga komponen penyebab penyakit itu. Mottonya dalam menghindari penyakit ikan adalah pencegahaan lebih baik dari pada pengobatan, jika terpaksa, pengobatan sebaiknya menggunakan tumbuhan herbal saja disekitar yang memiliki kandungan antimikroba yang bersifat bakterisidal”, Ujar Dosen BDP UNA ini. (HUMAS UNA).